ASISTEN RUMAH TANGGA BUKAN ASISTEN HIDUPMU

 

Kalau kita buka KBBI1, maka kita akan dapatkan definisi “asisten” adalah orang yang bertugas membantu orang lain melaksanakan tugas profesional dalam masalah pekerjaan, profesi dan kedinasan. Sedangkan “pembantu” dalam KBBI diartikan sebagai orang/alat yang membantu, menolong bahkan dilanjutkan lebih detil sebagai pengurus urusan rumah tangga seperti memasak, mencuci dan menyapu. 

Bagi saya, istilah ART jauh lebih tepat daripada pembantu. Pembantu sesuai yang didefinisikan hanya fokus pada pekerjaan rumah tangga. Terlepas dari seorang pembantu itu terlatih atau tidak, profesional atau tidak. 

Ingat, pekerjaan apapun butuh skill. Bahkan pembantu harusnya punya skill yang cukup untuk mengurus rumah kita. Kita percayakan seluruh isi rumah kita baik harta dan manusia didalamnya untuk dijaga dan dirawat oleh pembantu. Jika tidak diserahkan kepada orang yang profesional, maka bisa jadi masalah besar di kemudian hari.

Istilah asisten rumah tangga lebih jelas memilah mana orang yang pantas mana yang tidak pantas. Entah siapa yang pertama kali mempopulerkan istilah ini, tapi bagi saya ini keren. Asisten adalah mereka yang melakukan sesuatu secara profesional dalam masalah pekerjaan dan profesi tertentu. 

Jika yang dibahas adalah rumah tangga, artinya ART adalah mereka yang memang punya skill dan profesional untuk mengurus urusan rumah tangga. Mereka terlatih, punya integritas dan bisa dipercaya. Siapa yang mereka bantu? Adalah mereka yang juga seorang profesional dalam hal ini yaitu orang tua, hanya orang tua. Anak-anak bagaimana? Anak-anak yang ada di rumah bukan seorang profesional. Jadi bagi saya anak-anak tidak berhak menggunakan jasa seorang ART. Anda bingung? Baguslah…jadi Anda makin penasaran untuk Lanjut baca terus.

Sederhananya adalah, jika anak-anak di rumah Anda sudah sangat asyik dan terbiasa memerintah atau menyuruh-nyuruh pembantu di rumah untuk membantu urusannya seperti menyuapi, mencarikan kaos kaki, memasakkan makanan kesukaan, bahkan sampai masuk kamar pembantu tanpa mengetuk hanya untuk meminta di cucikan sepotong baju pestanya, maka saran saya hentikan kebiasaan itu, STOP!!!. 

Anda justru hanya meracuni anak-anak Anda sejak dini. Jika Anda ingin menjadi pelatih produktivitas yang pertama dalam hidup anak-anak Anda, maka berhentilah sembrono menggunakan jasa ART di rumah.  

ART idealnya hanya mengurus urusan fisik di rumah, yang tidak bisa Anda lakukan karena Anda sibuk melakukan “high value” atau “high value rupiah”. Tidak semua pekerjaan rumah bisa Anda kerjakan, ada beberapa pekerjaan yang seharusnya bisa Anda outsourcing-kan karena waktu Anda jauh lebih bermanfaat untuk mengurus benda hidup (pasangan Anda atau anak anda) ketimbang mengurus benda mati (baju kotor, memasak, menyapu). 

Merawat dan mendidik anak boleh Anda delegasikan kepada guru atau pembantu, tapi mengasuh tidak bisa. merawat anak adalah hal seputar fisik dan logika mereka, tapi mengasuh adalah apa yang Anda install ke dalam hati mereka.

Walaupun tidak semua orang mungkin sama termasuk saya sendiri. Misal di rumah kami, tidak ada ART karena memang istri saya tidak nyaman ada orang lain serumah dengan kami. Juga kami komitmen membagi jobdesk masing-masing. Istri bertugas memasak dan menjadi guru untuk anak-anak. Tugas saya sebagai kepala sekolah yang menentukan kurikulum, mencari nafkah, mencuci, menyetrika, mengepel, menyapu. Anak-anak juga punya tugas masing-masing. Lagipula bagi saya muslim, mengerjakan pekerjaan rumah adalah ibadah.

Mungkin Anda adalah seorang wanita karir yang sibuk seharian di kantor. Setiba di rumah jam 5 sore, alih-alih menemani dan mendampingi anak-anak yang butuh waktu dan perhatian Anda, Anda justru malah sibuk di dapur atau mencuci pakaian. 

Sementara willpower Anda terus terkuras dan waktu sudah masuk pukul 7 malam. Anak Anda mungkin merengek di sebelah Anda minta dibacakan buku atau minta ditemenin main boneka yang kemarin Anda minta pembantu Anda belikan. Karena Anda masih sibuk masak, Anda mungkin akan sedikit melotot dan meminta anak bermain sendiri. Setelah makan malam, Anda sudah lelah, dan berpikir untuk segera istirahat. 

Anda minta anak-anak untuk bersiap tidur karena waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. Di Tempat tidur Anda yang  belum bisa langsung tidur, mungkin malah asyik pegang hape yang tanpa Anda sadari 60 menit berlalu bebas sebelum akhirnya Anda ketiduran. 

Besok paginya Anda sudah masuk routine yang sama dan hari berlalu terus tanpa Anda sadari anak-anak membesar, Anda menua, anak-anak akhirnya sibuk, Anda menjadi tidak sibuk. Lalu datang masa dimana Anda ingin habiskan waktu lebih banyak dengan mereka tapi yang Anda temukan justru anak-anak sudah sibuk dengan urusan mereka. 

Lalu Anda mulai mengingat kembali betapa sibuknya Anda dulu, entah penting atau tidak, tapi membelikan mainan saja harus minta tolong pembantu, boro-boro menjadi pelatih kepribadian untuk anak, nemenin anak main saja tidak sempat. Sungguh orang tua yang hebat! 

OK ya, kembali ke topik. Saya tidak akan bahas bagaimana sebaiknya Anda mengatur diri Anda agar lebih produktif di dalam dan luar rumah disini, Anda bisa baca artikel saya yang lain. 

Tapi bagaimana Anda melatih anak-anak menjadi produktif sejak kecil adalah yang penting untuk kita bahas saat ini. Pembantu atau ART (manapun istilah yang Anda suka) adalah orang yang sejatinya membantu Anda di rumah. Latih anak-anak untuk menyelesaikan urusan mereka sendiri. Buatlah aturan di rumah bahwa yang boleh meminta tolong pembantu hanya ayah atau ibu, anak-anak tidak berhak. Kenapa? Karena yang menggaji mereka adalah orang tua. Jika anak-anak mau meminta tolong kepada pembantu Anda di rumah, berikan 3 syarat ini:

 

1.       Diperlukan. Karena memang umur mereka belum cukup misal menyetrika. Anak seharusnya sudah bisa mencuci baju sendiri di kelas 2 semester 2, dan mampu menyetrika pakaiannya sendiri saat berada di kelas 6 SD. Sebelum itu anak bisa meminta tolong kepada ART

2.       Atas izin pemegang saham (ortu). Anak bisa meminta tolong kepada ART jika sudah minta izin kepada orang tua sebagai pemilik saham di rumah.

3.       Anak menjadi pemilik saham. Jika anak ngotot tetap ingin menggunakan jasa ART, maka anak harus menjadi pemilik sebagian saham di rumah, dalam artian anak harus ikut urunan membayar gaji ART.

 

Jika ini dijelaskan baik, anak akan tumbuh menjadi jauh lebih bertanggung jawab dan produktif.   Studi2 jangka panjang yang dilakukan Dr. Marty Rossmann dari University of Minnesota menemukan, anak yang rajin melakukan pekerjaan rumah tangga pada usia muda, tumbuh sukses secara akademis dan juga dalam berkarir. 

Rossman melakukan penelitian terhadap 84 anak berusia tiga sampai 16 tahun. Penelitian menemukan, anak yang turut serta mengerjakan pekerjaan rumah tangga seperti mencuci piring dan menyapu rumah selama tinggal bersama orangtuanya, tumbuh menjadi anak yang sukses1 

“Anak usia tiga sampai empat tahun yang sudah membantu pekerjaan rumah tangga, berkembang menjadi anak yang mandiri dan lebih bertanggung jawab,” kata Rossmann. Menurut penelitian dari Universitas Harvard, anak yang terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah tangga memiliki kesehatan mental yang baik saat dewasa. Rossmann juga menemukan bahwa anak-anak yang mulai membantu orang tua pada usia lebih muda cenderung memiliki hubungan baik dengan keluarga.

“Di usia dewasa mereka memiliki hubungan yang baik juga dengan temannya karena tugas rumah tangga mengajarkan anak tentang pentingnya memberi kontribusi dalam keluarga, yang melatih kerja sama dan rasa empati,” ujar Rossmann dikutip dari Purewow.   

Sebagai kesimpulan, asisten rumah tangga bukanlah asisten hidup Anda. Mereka mungkin membantu Anda mengerjakan hal penting sembari Anda sibuk mengerjakan hal yang lebih penting lainnya, tapi ingat mereka tidak bisa menggantikan Anda sebagai pelatih dan orang tua bagi anak-anak. Terlebih lagi, mereka juga bukan asisten anak-anak Anda. Lebih bijak dalam hal ini membuat Anda bisa mendapat banyak manfaat hebat dalam sekali dayung di perahu hidup anda.

Memberi aturan anak tidak boleh menggunakan jasa ART di rumah tidak hanya membentuk anak anda menjadi lebih mandiri dan bertanggung jawab, tapi juga melatih otot produktivitas anak Anda sejak dini. Dilingkungannya mereka terlibat dalam urusan rumah tangga dan secara personal mereka terlatih sibuk dan me-manage kebutuhan mereka setiap hari. Saya yakin tidak semua dari Anda akan setuju atau berani dengan konsep ini, tiap pilihan sikap tentunya selalu ada dampak yang seharusnya anda pahami. Tapi apapun itu, izinkan saya mengucapkan penutup ini, Selamat menjadi pelatih produktivitas untuk anak-anak Anda!

 

Referensi;

1.   https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri

2.   www.liputan6.com  

 

 

Salam hangat dari saya

Muhammad Bahauddin Amin

Co-trainer sync planner

 

Leave a Reply

Close Menu
×

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Morbi fringilla sollicitudin lacus, ac rutrum massa tristique fringilla. Suspendisse mattis finibus felis nec faucibus. Vivamus ut quam metus. Vivamus porttitor sodales odio. Sed hendrerit lectus nec ultrices varius. Sed lacinia commodo tortor. Sed cursus tempus leo, eget aliquet lorem. Aliquam sit amet tristique metus. Duis interdum justo in nisi commodo ullamcorper.

[contact-form-7 id=”298″ title=”Contact form”]