ATURAN 5 DETIK UNTUK HIDUP LEBIH PRODUKTIF

Jika setelah menunda sesuatu yang penting lalu Anda merasa bersalah, mungkin Anda tidak butuh banyak obat untuk memperbaikinya. 

Artikel ini akan sedikit membahas soal itu. Tapi jika lebih parah, Anda mungkin butuh bantuan lebih dari ini. Terlebih jika Anda membaca artikel ini karena sedang menunda sesuatu paling tidak tulisan ini memberikan Anda jeda yang bisa membuat Anda merenung sesaat.

Menunda adalah musuh utama dari produktif. Sebaik apapun Anda mengorganisir waktu, sebaik apapun Anda merencanakan, kalau menunda masih menjadi teman baik Anda, maka Anda masih jauh dari level prima. 

Keprimaan hanya Anda dapatkan jika benar-benar paham dan melakukan apa yang harus Anda lakukan. Keduanya harus sinkron, nanti akan saya bahas sedikit soal ini. Kita ambil contoh menekan tombol tunda saat alarm berbunyi di subuh hari. Seberapa sering Anda menggunakan tombol ini?

Penelitiantentang menunda pernah dilakukan oleh Laura J. Salomon dan Esther D. Rothblum dari Universitas Vermont tahun 1984. Mereka menemukan fakta bahwa 46% dari responden hampir selalu menunda mengerjakan tugas, 27,6% menunda belajar untuk ujian dan 30,1% menunda membaca tugas mingguan. 

Dampaknya jelas soal keprimaan tadi. Tymothy Pychyl, seorang Profesor di Carleton University Ottawa, Kanada melihat bahwa penundaan sebagai perilaku lari dari tanggung jawab. 

Yang mana memang terlihat make sense karena tersimpan perasaan takut, cemas atau bahkan enggan keluar dari nyaman dan menunda terlihat jadi jalan keluar yang memberi kepuasan. Tapi setelah itu perasaan bersalah dan panik akan menghantui. 

Para psikolog berpendapat bahwa persepsi soal waktu akan jadi latar belakang penting dari sikap menunda ini. Misalnya menurut Pychyl, orang yang mementingkan masa depan ternyata lebih sedikit menunda karena mengganggap mempersiapkan diri saat ini adalah cara terbaik menyiapkan masa depan.

Kadang sikap perfeksionis2 juga menjadi faktor penyebab penundaan. Ingin tampil sangat baik memunculkan rasa takut hasil evaluasi yang rendah alhasil kesibukannya mencari kesempurnaan membuat dia menunda menyelesaikan. 

Faktor lain yang juga dibahas adalah misalnya kemarahan, merasa rendah diri dan tidak percaya diri.

Jangan salah paham ya, ini semua bukan salahnya manajemen waktu. 

Mentor saya di kampus dulu pernah “menampar” saya dengan berkata “waktu itu tidak bisa diatur! Dia tetap berjalan. Yang diatur itu pantatmu, mau dipindahkan dari nyaman atau tidak?“ 

Di situ saya sadar bahwa tidak ada yang namanya Time Management, yang ada Self Management. Selama saya malas bergerak dari nyamannya sofa saya untuk mengerjakan tugas gambar di FAK – Arsitektur dulu, maka tidak ada gunanya semua rencana dan jadwal itu. 

Menunda bukan masalah manajemen waktu, ini murni masalah manajemen emosi atau bahasa kekiniannya adalah akal sehat. Seberapa sehat akal Anda menilai mana yang penting dan genting. 

Sync Planner membantu Anda mengorganisir diri, pikiran dan rencana Anda, tapi satu-satunya yang bisa membuat Anda menembus semua halangan hanyalah diri Anda. Sampai di mana keinginan Anda untuk menjadi prima 100% sebagai orang tua, pebisnis, hamba Allah, pelajar dan pasangan.

Menurut Joseph Ferrari3 psikolog dari Universitas DePaul, dia memberi 2 alasan mengapa orang menunda. Karena merasa suasana hati tidak tepat, dan alasan kedua adanya asumsi bahwa perasaan tidak tepat tadi akan segera berubah jika menunda dulu. Padahal hal ini tidaklah selalu benar. Anda mungkin butuh jeda, tapi percayalah bahwa jeda tidak butuh sesering itu. 

Dalam skema kehidupan, menekan tombol tunda pada alarm di handphone yang berbunyi di pagi hari mungkin adalah hal biasa. Tapi banyak sekali orang terjebak terlalu lama di sana dan tanpa disadari tahun berlalu dan dia masih di sana dengan kebiasaan sama terjebak menghancurkan diri sendiri. 

Kita terlalu sibuk memastikan diri kita takut, khawatir dan ragu lalu akhirnya membuat keputusan-keputusan remeh sepanjang tahun-tahun terakhir kehidupan kita. 

Keputusan untuk bangun telat, keputusan untuk tidak menjaga kesehatan, keputusan untuk tidak mencari pekerjaan atau keputusan untuk tidak menjadi ramah ke anak-anak. Ini semua keputusan yang kita ambil. 

Apakah kita bisa membuat keputusan sebaliknya yang lebih baik?

Tentu bisa. Tapi masalah utamanya adalah bukan pada rencana untuk membuat keputusan terbaik, tapi bagaimana kita keluar dari kepala kita dan langsung melakukan. STOP!! berhentilah untuk selalu memikirkan apa yang baik yang harus dilakukan jika Anda sudah sangat paham apa yang harus dilakukan itu. Segera mulai !!!

Segera lari/bersepeda lagi!

Segera bersikap baik dengan keluarga!

Segera mengunjungi tempat-tempat indah!

Segera bangun dari ranjang dan menyiapkan anak-anak pergi ke sekolah! 

Ini semua terdengar mudah, tapi kebanyakan orang tidak mudah keluar dari kepalanya dan hanya sekedar membayangkan semua itu terealisasi. 

Satu hal yang saya pelajari dari Mel Robbins4, seorang pembicara motivasi dengan salah satu top 20 dalam program TEDx Talk beberapa bulan lalu adalah tentang bukunya yang berjudul “aturan 5 detik”. 

Jika Anda menerapkannya, inshallah masalah menunda Anda beres dalam 5 detik. Diceritakan awal kebangkrutannya bersama suami dan hari-hari kelamnya yang menjadi fase penting dalam perubahannya. 

Hampir setiap malam ditutup dengan pertengkaran dengan suaminya, lalu pagi disambut dengan alarm yang membangunkannya untuk kembali menghadapi kenyataan hidup. Apa pilihan terbaiknya? Menekan tombol tunda di alarm sepertinya menarik dan lalu kembali tidur berharap dia tidak perlu segera bertemu dengan masalahnya kembali. 

Tanpa dia sadari, dia melewatkan banyak hal penting. Umur menua, teman-teman menjauh, kesehatan berkurang, masalah keuangan menjadi makin parah.

Lalu pada suatu malam saat akan mematikan TV, dia melihat roket NASA yang siap meluncur. Dia tersentak dan berkata “Ini yang saya butuhkan !!!, Saya akan luncurkan diri saya juga!” begitu katanya girang. 

Mungkin ini konyol bagi Anda, tapi Mel Robbins malam itu berencana meluncurkan dirinya yang baru besok pagi. Bagaimana caranya?

1.  Dimulai dari alarm pagi hari, tanpa pikir panjang ketika dia tersadar bangun dia segera menghitung mundur 5 ,4 ,3 ,2 ,1… dan segera meloncat berdiri. Sejenak dia kaget karena ini adalah pertama kalinya dalam beberapa bulan kelam sebelumnya dia berhasil mengalahkan kebiasaan menekan tombol snooze dan berdiri tegak di pagi hari dingin udara boston saat itu. Besoknya dia coba lagi dan berhasi. Besoknya berhasil, besoknya lagi berhasil, berhasil lagi dan seterusnya berhasil. Ternyata menghitung bukan sepenuhnya ide bodoh kan?

2.     Saat ingin olahraga, tanpa pikir panjang dan segera menghitung dalam hati lalu meluncur

3.     Saat ingin berkenalan dengan orang baru, tanpa pikir panjang dan segera menghitung dalam
hati lalu meluncur

4.     Saat ingin menelepon orang tua, tanpa pikir panjang dan segera menghitung dalam hati lalu meluncur

5.    Saat ingin prospek customer baru, tanpa pikir panjang dan segera menghitung dalam hati lalu
meluncur

Lalu dia mulai menyadari sesuatu yang menarik, ternyata selalu saja ada momen penting dalam siklus sehari manusia sama seperti 5 detik bangun dari ranjang tadi. Dimana kita mungkin tahu apa yang harus dilakukan, apa yang baik dan benar harus dilakukan tapi tidak kita lakukan dalam 5 detik pertama. 

Maka diri sendiri akan mensabotase pikiran untuk tidak melakukan. Karena otak bergerak dengan sangat cepat membuat diri menghindar dari sesuatu yang tidak menyenangkan.

Kesimpulan, tugas Anda adalah berpindah dari IDE menjadi ACTION dalam momen terkecil. 

Jika Anda berhasil menguasai ini, hidup Anda akan berubah. Anda tidak akan terhentikan oleh apapun dan siapapun bahkan dimanapun untuk membuat keputusan terbaik. 

Kita selalu punya pilihan menjadi autopilot dalam membuat keputusan dan menyadari bahwa sampah masa lalu yang mengahalangi selama ini tergantung keputusan yang kita buat. 

Aturan 5 detik adalah cara termudah meng”akali” otak berpindah dari urusan penting satu ke urusan penting lainnya.  

“Maka apabila kamu telah selesai dari sesuatu urusan, kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain” (Qur’an surat Al-insyirah ayat 7)

Anda yang sudah mencicipi Sync Planner, saya tahu Anda akan paham tentang sensasi asiknya meluncur ini. Tapi untuk Anda yang masih saja belum memulai (menunda) menggunakan Sync Planner, trik ini saya harap bisa membantu Anda untuk lebih prima, tapi tetap asik. Siap asik? 

Ditulis oleh:
Muhammad Bahauddin Amin
Co-Trainer Sync Planner

 

 

Referensi:

1.     J Salomon,Laura. 1984. “Academic procrastination: Frequency and cognitive-behavioral
correlates”. Journal of Counseling Psychology 31(4):503-509

2.     Srantih, Titih. 2014. “PENGARUH PERFEKSIONISME TERHADAP PROKRASTINASI AKADEMIK PADA MAHASISWA YANG SEDANG MENGERJAKAN SKRIPSI DI FAKULTAS PSIKOLOGI UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG”. UIN Sunan Gunung Djati Bandung

3.   Joseph R. FerrariJudith L. JohnsonWilliam G. McCown. 2013. “Procrastination and
Task Avoidance”. Published by Pk=lenum Press, New York in 1995.

4. https://www.youtube.com/watch?v=Zmp4AxJrvG0&list=PLjcFvcbS8Eae_NbS5W 1zkROwygowyPSA&index=31&t=0s



Leave a Reply

Close Menu
×

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Morbi fringilla sollicitudin lacus, ac rutrum massa tristique fringilla. Suspendisse mattis finibus felis nec faucibus. Vivamus ut quam metus. Vivamus porttitor sodales odio. Sed hendrerit lectus nec ultrices varius. Sed lacinia commodo tortor. Sed cursus tempus leo, eget aliquet lorem. Aliquam sit amet tristique metus. Duis interdum justo in nisi commodo ullamcorper.

[contact-form-7 id=”298″ title=”Contact form”]