How to Master Your Habit

 

Ada pembahasan yang menarik soal habit dalam buku “The Power of habit” tulisan Charles Duhigg yang disebut dengan lingkaran kebiasaan. Seperti yang kita paham, kebiasaan mengontrol hampir seluruh kegiatan kita sehari-hari. Hampir 98% dari apa yang lakukan, pikirkan dan ucapkan adalah hasil kebiasaan kita. Sisanya adalah hal baru yang kita temui. Misal saja Anda tiba-tiba mau masak ramen karena ngiler lihat iklan di Youtube padahal sebelumnya Anda terbiasa gofood. Satu hal kecil ini mungkin adalah 2% dari hal yang Anda lakukan dan pikirkan dalam sehari yang merupakan bukan kebiasaan Anda. Sisanya yang Anda lakukan di 98%nya bisa dipastikan adalah hal-hal yang sudah Anda lakukan selama ini.

Kembali ke lingkaran kebiasaan, sebenarnya ini adalah sebuah representasi dari cara kerja habit. Apa pun kebiasaan yang sedang Anda bangun saat ini (baik atau buruk), semuanya mengikuti aturan lingkaran kebiasaan. Polanya selalu diawali oleh pemicu atau tanda isyarat yang sudah dikenali oleh otak. Saat hal ini terjadi, otak menggunakan mode autopilot untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut tanpa perlu banyak bacot atau banyak pikir. Mengapa demikian? Karena skenario itu sudah terekam di dalam pikiran Anda dan menjadi tugas rutin yang dikenali program diri Anda yang mungkin sering Anda dengar dengan istilah program bawah sadar. Ijinkan saya ceritakan sedikit soal ini.

Saat Anda melihat orang lain mengemudi mobil, Anda pikir itu mudah. Padahal faktanya Anda tidak punya skill mengemudi dan berbahaya jika Anda memaksakan mengemudi tanpa skill. Saat itu Anda berada pada anak tangga paling bawah dari proses belajar yang disebut unconscious competence / tidak tahu bahwa dirinya tidak bisa / dodol. Fase dodol ini adalah fase dimana Anda merasa tidak perlu untuk merasa bersalah karena tidak mampu. Sekali lagi karena memang Anda tidak tahu bahwa Anda tidak mampu. Saat diminta mencoba untuk mengemudi mobil. Anda merasa kebingungan, melihat begitu banyak aksesoris dan panel seperti pedal, tuas persneling, tuas rem tangan, lingkaran setir dan lain-lain membuat Anda gugup dan akhirnya Anda sampai pada fase kedua dari anak tangga yaitu conscious incompetence / menyadari ketidakmampuan diri / nyadar. Fase nyadar ini membuat Anda merasa harus belajar dan bertumbuh kadang ada rasa bersalah juga disana.

Setelah itu Anda mulai belajar, berlatih dan membuat diri Anda terbiasa dengan skill baru ini dan tanpa Anda sadari Anda masuk fase ketiga bernama conscious competence / menyadari kemampuan diri / belajar. pada fase belajar ini Anda masih sangat terbata-bata. Kadang ketika sudah lancar di jalanan lurus, Anda masih gugup ketika berada di persimpangan jalan atau jalanan menanjak atau bahkan hanya sekedar harus berbagi ruas jalan ketika bertemu kendaraan lain. Ketika gugup saya bahkan pernah sampai mematikan mesin di tengah jalan karena khawatir salah menginjak pedal sewaktu almarhum ayah saya mendampingi kursus mengemudi kami.

Akhirnya Anda makin mahir, makin lancar, makin terbiasa bahkan bisa mengemudi sambil main game di satu tangan lainnya yang sedang bebas yang tentunya ini sangat tidak disarankan untuk siapapun. tangan dan kaki anda seolah memiliki mata dan pikirannya sendiri. semua terasa serba otomatis ketika ada pengguna mobil yang berhenti mendadak. dengan ekspresi datar tangan dan kaki anda secara otomatis bisa berpindah ruas jalan dengan cepat. Saat itu terjadi artinya anda sudah sudah masuk anak tangga terakhir dari proses belajar yang diberi nama unconscious competence / perasaan hambar dengan kemampuan diri / master. Pada fase ini orang mungkin akan kagum dengan apa yang Anda lakukan tapi nyatanya Anda merasa hal tersebut biasa saja. Pernah Anda mengalami kejadian ini? Disaat teman Anda memuji karikatur yang Anda buat? Atau saat Anda bermain gitar dan bernyanyi? Orang lain kagum tapi Anda merasa biasa saja. Nah ini namanya fase master, untuk sampai kesini “mahal” biayanya. Butuh banyak waktu dan tenaga yang keluar.

Karena untuk sampai kesini itu sangat “mahal”, saya sarankan anda investasikan waktu yang cukup untuk melatih diri hanya untuk menguasai skill yang bermanfaat. Bahayanya, kadang orang memanfaatkan anak tangga belajar ini untuk membentuk dirinya menjadi lebih buruk. Anda duduk dengan bosan di kursi sofa rumah, kemudian ada dorongan untuk mencari cemilan. Ketika Anda menuruti dorongan itu, maka suasana terasa seperti biasa-biasa saja karena sebenarnya yang telah terjadi adalah Anda sedang memberi makan kebiasaan ini agar lebih baik tumbuh dalam diri Anda. Pemicunya adalah bosan, dan mencari cemilan adalah rutinitas yang mungkin sudah dilakukan ratusan kali sampai-sampai tubuh tahu persis apa yang harus dilakukan ketika muncul pemicu. Apa yang Anda dapatkan ketika rutinitas ini selesai? Tentu kepuasan. Ini adalah ringkasan dari skema lingkaran kebiasaan yang kita bahas diatas tadi.

Pertanyaannya apakah kebiasaan lama bisa dilupakan? Ternyata tidak. Tapi penelitian membuktikan bahwa kebiasaan bisa diganti asal polanya diputus. Kalau polanya masih sama, maka Anda akan cenderung terus terjebak pada lingkaran setan ini. Tentu yang kita bahas disini adalah kebiasaan jelek, dan kita sepakat kalau kebiasaan baik harus tetap dijaga dan ditingkatkan. Saat pola dari habit itu diputus, maka otak akan bingung dan secara kreatif mencari faktor pengganti. Saat itulah kita secara sadar masuk dan memberikan alternatif yang jauh lebih memberdayakan.

Dalam bukunya, charless menyarankan satu teknik “golden rule” untuk menggantikan kebiasaan yang ingin kita hilangkan dengan cara memodifikasi rutinitasnya, bukan isyarat atau hadiahnya. Ketika Anda memodifikasi rutinitasnya, maka Anda tetap mendapatkan reward yang seharusnya Anda dapatkan. Misal seseorang mendapat isyarat untuk merokok, tanpa mengubah isyarat dan hadiah, dia justru malah menyeduh kopi. Hadiahnya tetap dia terima yaitu efek yang mirip nikotin dia dapatkan dari kopi.

Menunda juga adalah habit yang terbentuk dari lingkaran ini. Saat pemicunya muncul (ribet, perasaan nggak cukup waktu, pusing, males dll) maka tindakan yang dipilih adalah menunda. Apa rewardnya? Tentu saja happy karena tidak harus berurusan dengan nya lagi. Tapi besok pemicu yang sama akan muncul lagi karena urusan memang tidak selesai. Anda menunda lebih banyak dan terjebak lebih dalam di lingkaran setan ini. Bagaimana cara keluar dari lingkaran ini? Ubah rutinitasnya dengan langsung eksekusi. Apa rewardnya? tentu perasaan happy juga karena urusan selesai. Sama-sama happy kan?

Cara yang sama bisa Anda adaptasikan ke semua habit yang ingin Anda ubah atau ganti. anda harus benar-benar paham apa pemicunya? Sehingga Anda bisa segera mengubah polanya. Tracking  semua pemicu habit buruk yang ada, kemudian lakukan perubahan rutinitas dengan tetap menjaga rewardnya utuh. Utamanya pada kebiasaan yang Anda sadari tidak membawa Anda kemana-mana misalnya scrolling medsos. Cari tahu apa pemicunya misalnya bosan.

Ketika ada dorongan ingin mengambil handphone, segera ganti dengan rutinitas lainnya misal update SyncPlanner atau mengambil buku yang Anda beli bulan lalu tapi bahkan belum sempat anda buka sampul plastiknya itu. Rewardnya adalah perasaan puas karena Anda produktif, lega, menjadi termotivasi dan terbangunnya kejelasan di dalam diri Anda. Semakin sering Anda lakukan ini, semakin cepat bawah sadar Anda menerima hal ini sebagai program baru yang harus didukung. Setiap kali sinyal bosan muncul, maka pikiran Anda menjadi autopilot mencari buku. Cukup keren bagi anda? Selamat mencoba!

Kebiasaan memang butuh waktu untuk bisa berubah, Anda tidak bisa langsung menggantinya dengan kebiasaan yang produktif dalam waktu singkat. Tidaklah mudah  mengubah sesuatu yang sudah lama menjadi bagian dari diri kita. Sebaiknya Anda bersabar, pahami isyarat demi isyarat yang muncul, cari tahu rutinitas pengganti yang lebih baik dan juga tetap nikmati hadiahnya. selamat berlatih!

 

ditulis oleh Muhammad Bahauddin Amin
Co-Trainer SyncPlanner

Leave a Reply

Close Menu

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Morbi fringilla sollicitudin lacus, ac rutrum massa tristique fringilla. Suspendisse mattis finibus felis nec faucibus. Vivamus ut quam metus. Vivamus porttitor sodales odio. Sed hendrerit lectus nec ultrices varius. Sed lacinia commodo tortor. Sed cursus tempus leo, eget aliquet lorem. Aliquam sit amet tristique metus. Duis interdum justo in nisi commodo ullamcorper.

[contact-form-7 id=”298″ title=”Contact form”]