JANGAN HANYA KULIAH

Buat kamu yang masih kuliah, atau sementara kuliah, atau lagi mau kuliah, konten ini mungkin cocok buat kamu, mungkin juga nggak, tapi kalau yang kamu pikirkan adalah bagaimana 4-5 tahun durasi kuliah itu nanti tidak hanya bikin kamu bisa bawa pulang ijazah tapi juga jadi pribadi prima 100%, maka mungkin konten ini cocok buat kamu. Kita mulai ya!

Awalnya saya kepikiran tulis ala penulis lainnya yang menjadi pengamat dan menyertakan sumber-sumber yang endingnya disajikan ke kamu. Tapi setelah saya pikir-pikir, konten kali ini mungkin cocoknya jadi sesi sharing atau bahkan curhat saya saja ya. Lha Kenapa? Karena kamu belum tentu suka sama bahan yang berat-berat, apalagi kalau bahan bacaan di kampus sudah berat ditambah lagi disini dibikin berat. Alasan kedua, daripada saya bawakan teori yang belum tentu cocok buat kita, sementara saya sendiri hanya jadi pengamat yang bertugas ngasih info kekamu padahal infonya bisa jadi bisa kamu cari sendiri, mending saya bawakan teori yang sudah saya pakai dan berhasil minimal kediri saya dan teman-teman saya dulu. Jadilah sesi konten kali ini adalah sharing atau sekalian curhat saya sebagai penulis. So…please enjoy!

Pertama kita ceklist dulu, kenapa jangan Cuma kuliah? Maksudnya gini lho.  kita juga harusnya melakukan banyak hal hebat lainnya selain kuliah selama 4-5 tahun itu kan. Setuju? Coba deh kita breakdown kenapa nya !

1.       Karena di kampus nanti kamu tidak benar-benar sibuk. No debat! wkwkwk

2.       Karena kuliah itu membantu kamu melihat kehidupan dengan layar yang lebih luas. Kamu jadi paham dan kenal dengan banyak karakter orang, peluang karir bahkan sampai gangguan para negator (istilah saya untuk orang negatif dengan sikap yang nggak enak).

3.       Karena di kampus itu kamu mungkin punya peluang ketemu orang hebat dan belajar hal hebat lainnya. Kalau kamu tidak “nggeh” (baca:sadar) dengan ini, maka jadinya RUGI donk. Pulang pergi kampus Cuma bawa pulang catatan kelas. Ingat ya, peluang itu datang ke orang yang siap. Kalau orangnya nggak siap, teman sebelah kamu yang siap yang akan ambil. Memang rejeki nggak akan tertukar, tapi ikhtiar juga nggak bakal tertukar. Agar jadi beruntung, selalu siap lah, agar ketika peluang datang, kamu jadi beruntung.

4.       Dan terakhir tentunya adalah Karena dikampus itu kamu harusnya lebih sibuk dari orang rata-rata. Kenapa? Kalau kamu mau santai saat tua, maka sibuklah saat muda. Jangan dibalik ya…dan jangan salah paham, sibuk disini maksudnya adalah PRO-DUK-TIF

Mahasiswa produktif itu adalah mereka yang benar-benar bisa menikmati hidup di kampus. Tetap asyik, tetap fokus dan tetap dapat apa yang jadi target dia selama kuliah. Ini yang saya bilang menikmati hidup selama di kampus. Di kampus itu ada banyak fasilitas gratis yang bisa dinikmati, ya nikmati saja!. Banyak dosen yang sudah “digaji” untuk bantu kita belajar, ya manfaatkan donk!. Dan lagi banyak teman-teman baru yang bisa tambah wawasan kita, ya bergaulah!. Dan banyak orang hebat yang bisa dijadikan guru. Tidak jarang juga saya temui teman-teman sekampus dulu yang justru sibuk kursus sana sini selama kuliah, atau sibuk bangun bisnis selama kuliah, atau sibuk ikut organisasi kampus. Sebagian beranggapan hal ini justru ganggu fokus kuliah, tapi sebagian lagi justru membuktikan bahwa tetap bisa berprestasi walaupun sibuk diluar kampus. Memang ujung-ujungnya kembali lagi ke personal. Tapi coba deh kita bedah, personal macam apa yang bisa seperti itu? Sehingga kalau kita tahu caranya, plus minus kita bisa tiru hasilnya.

Mungkin memang belum tentu benar semua, tapi paling tidak ini yang saya pahami dan sudah saya jalankan selama masa kuliah dulu (arsitektur 2005) dan kuliah sekarang (kedokteran 2016)

 

1.       PUNYA MENTOR

yang saya rasakan dulu ketika pertama masuk kampus adalah kosong, tidak tahu apa-apa dan menunggu mau ikut siapa. Saya tidak tahu apakah kamu juga seperti itu, tapi ini yang saya dan teman-teman lain rasakan. Alhamdulillah tahun pertama saat itu saya diijinkan bertemu dengan mentor-mentor hebat. Entah bagaimana caranya, mereka datang dan menjadi pendamping saya sampai saya lulus dan bahkan sampai harini kami masih berteman baik. Setelah saya pikir-pikir mungkin memang ada kaitannya dengan saya yang memang memaksa diri untuk bergaul waktu itu. Pengalaman 6 tahun sekolah di asrama (SMP-SMA) pondok pesantren DDI jayapura tentu membuat saya jadi sangat pendiam dan culun saat masuk kampus waktu itu. Nah mentor-mentor ini memang hadir karena sebelumnya saya sudah kenal walau tidak dekat. Akhirnya mau tidak mau saya harus mendekatkan diri saya ke mereka. Alhamdllah mereka sangat welcome dan akhirnya jadilah kehidupan kampus saya yang asik masa itu.

 

Mentor pertama adalah senior di jurusan teknik arsitektur saat itu.   Saya yang bukan berasal dari SMA teknik (STM) ini, tentu sangat kesulitan mengikuti kelas. Jangankan menggambar, menarik garis saja gemetaran. Memang ada mahasiswa lain yang juga dari sekolah umum, dan mereka itu yang awalnya juga jadi teman kumpul. Mentor teknik inilah yang dari awal mendampingi saya belajar dan mengejar ketertinggalan, bahkan saya diijinkan untuk sering-sering nginap dirumah beliau untuk belajar gambar, dasar psikologi arsitektur sampai diajari Autocad (aplikasi gambar arsitek). Saya bahkan bisa kenalan dengan banyak senior karena beliau. Saya sebut saja namanya Bang Ushin. Semoga beliau tetap sehat dan sukses dimana pun saat ini berada.

 

Mentor berikutnya adalah mentor diluar jurusan tapi masih dalam satu kampus yang sama. Saya sebut mentor ini adalah mentor pengembangan diri. Beberapa mentor sejenis ini yang lainnya memang beda kampus, tapi kami masih dalam satu organisasi jadi masih sering bertemu. Mungkin kamu akan anggap saya beruntung, tapi jika kamu memang ingin, harusnya kamu juga bisa dapat yang seperti ini. Mentor ini ngajarin saya banyak hal. Banyangin saja, mulai dari materi motivasi, diajarin ngaji, diajarinn bisnis, diajarin leadership, diajarin skill komunikasi, diajarin public speaking, diajarin parenting bahkan sampai diajarin persiapan jadi suami. Kelihatannya terlau lengkap ya? Tapi alhamdllah ini memang bukan mentor biasa. Belakangan setelah saya kenalan lebih jauh,  saya baru tersadar bahwa mereka ini adalah memang mentor-mentor yang disiapkan oleh suatu organisasi kampus untuk mempersiapkan mahasiswa jadi prima saat lulus. Heran ga ada organisasi seperti ini? Ini gratis lho. Ga bayar. Wkwkwkwk…

 

Saya sebut saja namanya ya, alhamdulillah diizinkan belajar dan berorganisasi di KAMMI (kesatuan aksi mahasiswa muslim indonesia). Organisasi ini punya program mentoring yang luar biasa keren dan ada silabusnya. Tentu tidak harus sama dengan saya, tapi saya yakin di kampus kamu saat ini harusnya ada organisasi mahasiswa yang urusin begituan. Nah kembali ke mentor-mentor pengembangan diri ini, karena usia juga terpaut tidak terlalu jauh mungkin sekitar 2-5 tahun, maka kami juga asyik-asyik saja bergaul dan nongkrong bareng. Mentor pertama namanya kak Gendro, kedua ada kak Meidi, lalu ada kak Adi dan lainnya. Semoga mereka tetap sehat dan sukses dimana pun berada saat ini. Saya banyak belajar agama dari kak Gendro. Beliau juga sangat menguasai fisika dan juga mentor fisika favorit di Primagama saat itu. Saya banyak belajar ngaji dan motivasi dari kak Meidi. Suaranya merdu dan wajahnya sangat tampan. Saya banyak belajar bisnis dan pengembangan diri juga dari kak Adi. Bahkan setelah lulus saya masih telibat banyak bisnis dengan beliau ini.

 

Silahkan bayangkan, jika saya hanya kuliah saja tanpa punya mentor. Saya  tidak akan punya banyak cerita ini untuk kamu. Mungkin hanya cerita pulang pergi kampus saja hahaha

 

2.       ORGANISASI

Banyak orang skeptis dengan organisasi, dianggapnya organisasi hanya bikin mahasiswa jadi mahasiswa abadi. Banyak sih kasusnya. tapi tidak sedikit juga yang sukses. Bagi saya organisasi adalah sekolah kepribadian. Terkadang kamu jenuh dengan materi kuliah, nah organisasi ini sediakan banyak hal asik untuk kita. Tentunya pilih konten organisasi yang sesuai juga ya dengan passion kamu. Saya memang tidak ikut banyak organisasi saat kuliah dulu. Karena satu organisasi saja kegiatannya sudah banyak. Saya juga masih harus membagi waktu saya untuk keluarga, bisnis dan tentu saja kuliah. Tapi sampai dimana kita benar-benar butuh organisasi di kampus ini? Hanya kamu yang tahu dan bisa mengukur.

 

Jujur memang awalnya saya juga hanya ikut-ikutan. Waktu itu alasan sederhananya adalah “supaya punya wawasan tentang dunia kerja” basi ya? Tapi memang dapat sih. Saya dapat banget feel mau kerja apa setelah masuk organisasi. Tapi hebatnya saya juga terlatih memimpin, terlatih bicara, terlatih berbisnis dan terlatih debat. Dan yang lebih penting, lulus kuliah dengan nilai terbaik dan tepat waktu alhamdulillah…eh nggak deng. BTW saya harusnya lulus 5 tahun waktu itu. Tapi kenapa wisudanya di tahun ke 6?  Karena semester 7 dengan berat hati saya ijin ke ortu cuti setahun untuk bangun usaha. Alasannya sih supaya lulus nanti sudah punya perusahaan. Alhamdulillah diijinkan, alhamdlulillah beneran lulus setahun setelahnya dan alhamdulillah juga langsung mimpin perusahaan sendiri yang sudah dirintis waktu itu jadi jujur saja ijazah nggak kepake buat cari kerja dari sejak lulus 2011 sampai harini wkwkwkwk…

 

3.       BISNIS

Ujung-ujungnya duit. Benar? Memang tidak semua tentang duit, tapi hampir semuanya tetap butuh duit. So sepintar apapun kamu kuliah, lulusnya nanti kamu akan tetap diukur oleh masyarakat dengan cara sejauh apa kamu bisa menghasilkan dari modal isi kepala waktu kuliah dulu. Nah itu sebabnya nilai tambah itu sangat penting. Nilai tambah adalah apa yang kamu bisa, tapi orang belum tentu bisa. kalau dijurusan arsitektur semua bisa gambar, maka gambar bukan nilai tambah. So supaya kedepan saya punya banyak opsi untuk berkarir dan menghasilkan, sejak kuliah saya sudah belajar banyak hal yang sifatnya bisa jadi nilai tambah pribadi. Termaksud belajar bisnis dan membangunnya. Membangun bisnis bikin kita punya banyak pengalaman baru. Mulai dari bermimpi, memimpin, mendesign, mengolah data, mengevaluasi dan scaleup. Hal ini belum tentu kamu dapat di bangku kuliah jurusanmu sekarang. Walau tidak benar-benar berbisnis setelah lulus nanti, tapi kamu jadi punya feel seorang entreprenuer dan bisa menyelesaikan masalah ala entreprenuer jika dibutuhkan. Bisnis adalah tools, yang bisa bikin kita jadi dewasa, jadi kaya, bahkan jadi bijak. Tergantung aliran mana yang kamu ambil. So pilihlah mentor yang benar. Kalau mau dibahas bagaimana memilih mentor yang benar, nnti kita bahas di konten khusus ya. Sudah saya tulis kok. Tapi kalau kamu beralasan kuliah sibuk dan nggak ada waktu untuk belajar bisnis, maka itu pilihan.

 

Sekedar nasehat kecil buat kamu dan ini juga dapat dari mentor dulu. Bagi saya kaya itu bukan sifat, bukan keturunan, tapi adalah skill. Kaya itu butuh latihan. Kalau kamu mimpi lulus kuliah langsung kaya, maka itu hanya akan jadi mimpi, beneran! Kecuali kamu latihan jauh hari sebelum lulus kuliah. Bangun bisnis saat kuliah bagi saya adalah cara melatih otot mental saya untuk terbiasa pada atmosfer kaya. Bahan bacaan juga mau nggak mau berubah saat itu. Saat semua mahasiswa asik baca komik, saya malah baca buku Rich dad poor dad dan buku-buku aneh lainnya. Walaupun saya tetap baca komik dan nonton anime sampai harini. Yes, fun time tetap harus ada. Pikiran dan tubuh harus dikasih hadiah setiap kali produktif agar tubuhmu merekam mana tindakan yang benar-benar harus sering diupayakan. Dan bisnis itu nggak sesulit yang kamu bayangkan kok. Intinya harus fun, kalau kamu fun, modal dan team akan datang dengan sendirinya. trust me, it work 😊

 

4.       GOAL SETTING / WELL FORM OUTCOME

Jika kamu menikmati main game 6 jam sehari maka sadar atau nggak, kamu sudah habisin waktu 15 tahun untuk main game jika umurmu genap 60 nanti. Taruhlah kamu main gamenya sejak 18 tahun, maka kamu habisin 12 tahun hanya untuk main game. ini adalah cuplikan materi produktivitas jaman saya kuliah dulu. Pertama kali dapat materi ini seingat saya saat semester 5 pada seminar motivasi di LDK (lembaga da’wah kampus) kami waktu itu. Selanjutnya setelah membedah waktu, kami dibuat ngeri lagi dengan bagaimana biasanya orang itu mudah sekali terganggu dengan hal remeh. Masuk lah ke kurva waktu genting dan penting. Materi terus berlanjut hingga pembahasan goal setting dan membuatnya. Sebagian dari Anda mungkin tidak familiar, tapi bagi saya dan mungkin sebagian Anda, ini adalah kenangan manis. Saya belajar membuat goal setting 5 tahun depan sejak saat itu. Memang tidak semua terwujud, tapi saya cukup puas dengan yang terjadi. Walau tidak selengkap sync planner, tapi itu cukup memotivasi kami saat itu. Goal setting adalah selembar kertas yang berisi belasan atau puluhan mimpimu yang ditulis rapih dan penuh emosional. Lalu ditempel ditempat yang mudah terlihat. Setiap pagi saat akan memulai hari, tulisan ini akan dilihat dan dilempari senyum dan begitu juga saat akan menutup hari.  Kertas ini saya ganti saat kelulusan karena sebagian mimpinya sudah terwujud. Yang belum terwujud akan saya tulis ulang. Belakangan setelah baca buku “the secret” saya memodifikasi goal setting ini dengan gambar.

 

Tertulis disana

Umur 22 beli motor hasil keringat sendiri

Umur 25 tahun menikah (usia sunnah)

Umur 26 buka bisnis kuliner

Umur 30 ……………

 

Selebihnya saya tidak begitu ingat. Tapi 2 hal ini cukup berkesan. Saat usia 22, mimpi untuk bisa beli motor impian tidak terwujud, Tapi alhamdllah diijinkan bisa beli mobil sendiri.  Dan ini juga hadiah buat ibu. Karena saat itu hanya ada saya dan ibu dirumah kami.  Dan ibu selalu saya antar kemanapun beliau mau, kadang pakai mobil peninggalan alhmarhum ayah, lebih sering pakai motor demi alasan hemat bensin dan hemat waktu. Satu waktu saya jemput beliau pulang kantor pakai motor, dan kami diguyur hujan deras dijalan.  Rasa bersalah sangat kuat dihati bahkan saya tidak mood lagi balik kampus dan kekantor saat itu melihat beliau batuk dan bersin setiba rumah. Rutinitas saya saat itu memang cukup padat. Saya masih kuliah semester akhir, kantor saya sudah buka, saya mimpin organisasi mahasiswa tingkat kotamadya, tapi saya juga tetap tidak mengijinkan ibu saya keluar rumah tanpa saya. Walhasil kemanapun belaiu pergi harus saya kawal termaksud ketika beliau pulang kantor (PNS walikota), kepasar atau cekUp kesehatan mingguan. Ini janji saya setelah ayah meninggal dan ibu terlalu lama sedih. Saya hanya ingin selalu hadir disampingnya agar beliau tidak merasa sepi. Singkat cerita, beberapa minggu setelah itu, jam 8 malam saya masih dikantor dan ibu menelepon gembira katanya ada kurir antar mobil kerumah. Tidak bisa saya jawab, cuma bisa bilang “luv u ma”. Sepulang kantor kira-kira jam 10 malam, seperti kebiasaan mama selalu menunggu makan malam bareng, mama sudah buat kue onde-onde. Kue ini khas banget untuk orang bugis kalau punya rumah baru atau mobil baru.

 

Singkat cerita, 3 mimpi lainnya terwujud tepat waktu.  Saya tidak akan mengakui kalau semua itu bisa terjadi karena saya hebat, tapi saya bisa akui kalau salah satu faktornya adalah karena saya fokus dibantu oleh goal setting yang saya buat 5 tahun sebelumnya.

 

5.       SENANGKAN HATI IBU

Poin ini yang terakhir tapi justru terpenting. Maunya sih ditaruh diawal tadi, tapi khawatir pikiran pembaca kecampur. Biar fokus, saya bahas singkat terakhir biar adem. Intinya gini deh. Ibu itu sumber energi kita. Air susunya mengalir didarah kita yang nggak bakal bisa kita ganti sampai kapanpun. Suara dan aroma tubuhnya nempel mati di memory kita. Kalau beliau senyum, fix hari kalian beres dan lancar. Tapi kalau hatinya kalian buat sedih, fix hidup mu susah. Ini sudah kejadian dimana-mana. Nggak perlu minta saya kasih data apalagi jurnal. Saya mau ujian kampus, grand opening, nikah, apapun deh, selalu harus tujuannya bikin ibu senang. Hasilnya selalu menyenangkan. Walaupun setelah beliau meninggal saya sempat drop 3 bulan nggak bisa keluar rumah dan 2 bisnis bangkrut seketika waktu itu. Tapi saya tersadar setelah itu, bahwa ibu cuma pindah alam. Saya juga umurnya nggak panjang-panjang amat. Inshallah nanti ketemu lagi. So bulan keempat saya kumpulkan lagi energi walaupun 2 tahun setelah itu saya harus pindah kota sementara agar pikiran saya sehat dulu. Memang saya akui menyenangkan ibu itu adalah tujuan jangka pendek, tapi menyenangkan kok dan tentu saja bernilai ibadah buat kamu.

 

Sebagai penutup, saya akan simpulkan dengan poin berikut;

1.       Dalam setiap fase kehidupan, setiap level belajar, kita butuh mentor. Keajaiban hidup itu adalah ketika kamu bisa lebih cepat sampai dari yang lain (percepatan). Mentor membantu kamu berlari lebih cepat.

2.       Manusia itu adalah peniru yang baik. Jangankan soal merokok, model rambut saja kadang kita ikutin orang. Mulai dari yang kita pakai, sampai yang kita jadikan habit. Jadi saran saya, berkumpullah dengan orang-orang positif. Organisasi itu isinya orang-orang sevisi dan saling menyemangati. Kamu bisa jadikan ini opsi jika ingin mencari komunitas produktivitas dikampus.

3.       Kamu boleh punya banyak aktifitas di kampus. Jangan langsung percaya kalau ada orang yang bilang “terlalu sibuk malah bikin lama lulus”. Sekali lagi ya, ini memang tergantung orangnya. Tapi kita sudah bahas tadi orang macam apa yang bisa. Selain punya mindset yang benar, juga harus punya tools yang benar. Kamu bisa pakai sync planner untuk mensingkronkan semua yang kamu ingin capai.

4.       Dari semua yang saya lakukan diatas? Apa yang saya capai? Apa benar bisa buat jadi beneran produktif? Saya bisa katakan pada Anda bahwa saya masih pada level standar saat itu. Saya masih saja merasa iri dengan teman-teman yang lain, kala mereka lulus kampus mereka ternyata punya banyak hal hebat juga yang dibawa pulang selain ijazah. Tapi not bad lha… kekampus bisa bawa mobil yang dibeli hasil keringat sendiri dan penghasilan bulanan waktu itu diatas 15 juta. Selain memimpin perusahaan sendiri, saat masih kuliah saya juga jadi leader di organisasi mahasiswa setingkat kota selama 2 periode membawahi 3 kampus sekaligus. 2 tahun setelah lulus saya diundang jadi pembicara utama “kuliah tamu” duet bareng wakil walikota dihadapan ribuan mahasiswa kampus almamater. Juga yang terpenting tetap standby nemenin ibu saya kemanapun beliau mau. Jangan salah ya, bahkan ketika ujian kampus pun saya pernah bolos karena ibu nelpon. Apalagi hanya meeting kantor. Came on…. 😊

 

“DONT BE BUSY, BE PRODUCTIVE”

 

Muhammad Bahauddin Amin
Co-Trainer sync planner

Leave a Reply

Close Menu
×

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Morbi fringilla sollicitudin lacus, ac rutrum massa tristique fringilla. Suspendisse mattis finibus felis nec faucibus. Vivamus ut quam metus. Vivamus porttitor sodales odio. Sed hendrerit lectus nec ultrices varius. Sed lacinia commodo tortor. Sed cursus tempus leo, eget aliquet lorem. Aliquam sit amet tristique metus. Duis interdum justo in nisi commodo ullamcorper.

[contact-form-7 id=”298″ title=”Contact form”]