MELAMUN SESAAT TERNYATA BAIK UNTUK PIKIRANMU

Otak kita bekerja dengan 2 mode utama yaitu diffuse dan focus. Keduanya sangat penting walau memiliki tujuan yang berbeda. Untuk menjadi diri Anda yang terbaik, Anda harus menguasai keduanya. 

 

Secara sederhana focus berarti adalah momen dimana Anda memberi perhatian penuh untuk bekerja dan produktif, lalu diffuse adalah momen dimana Anda istirahat dari fokus dan pikiran Anda bebas mengembara kemana saja, saat dalam mode ini pikiran Anda bisa tersebar kemana saja itu sebabnya disebut diffuse atau mode lamunan yang merupakan kebalikan dari fokus tadi. 

 

Konsep ini dikenalkan oleh profesor Barbara Oakley penulis bestseller buku “A mind for Numbers”. beliau adalah seorang penulis 8 buku, pelatih dan pemilik kursus online “Learning to Learn” yang menjadi paling populer dari yang pernah ada dengan jumlah member siswa lebih dari 1 juta orang. 

 

Anda mungkin terkejut mengetahui bahwa ternyata beliau juga adalah seorang kapten di angkatan darat AS, penerjemah di kapal pukat Soviet, insinyur dengan gelar Phd, peneliti dan juga seperti gelar yang sudah saya tulis di atas beliau juga adalah seorang profesor di universitas. Beliau banyak berbagi tips seputar strategi belajar agar lebih cepat dan mengatasi penundaan. Jika Anda adalah tipe orang yang sangat ingin menggunakan waktu anda dengan baik, maka mungkin Barbara Oakley adalah salah satu orang yang ingin Anda temui untuk meminta sarannya. 

 

Beliau menjelaskan bagaimana orang-orang beralih antara kedua mode ini sepanjang hari. Kita semua mungkin sepakat, bahwa fokus adalah cara terbaik mencapai performa tertinggi, tapi yang jarang orang pahami adalah bahwa mode difus sama pentingnya untuk membuat orang menjadi prima. 

 

Mode difus membentuk koneksi saat kita tidak fokus dan tanpa sadar tetap memikirkan masalah. Meskipun mode difus ini singkat dan bekerja tersebar sebagai kompensasi istirahat dari fokus, tapi yang terjadi adalah pikiran Anda tetap masih bekerja menemukan ide kreatif

 

Oakley menjelaskan bahwa dua mode ini didapat dari proses evolusi biologi manusia. Pada vertebra, kedua mode ini penting untuk bertahan hidup. Mode fokus digunakan untuk mencari makan dan mode difus berguna untuk memastikan area aman dari ancaman predator. 

 

Jika anda perhatikan, seekor burung atau ayam akan asik fokus mematok makanan di tanah atau pohon, sejenak mereka juga akan berhenti mengambil jeda mengangkat kepala untuk memperhatikan cakrawala yang disebut mode diffuse. 

 

Mereka selalu berganti antara dua mode itu. Jika Anda penasaran setelah membaca ini, saya sarankan puaskan penasaran Anda dengan segera mencari ayam dan memperhatikan perilaku ini atau sekedar membuka youtube. Haha..

 

Kedua mode ini penting untuk kita kuasai. Pada titik tertentu Anda mungkin pernah merasakan sulit untuk terus mempertahankan fokus dalam waktu yang panjang. Sebaliknya jika Anda jeda sesaat, Anda seperti punya energi kembali untuk fokus. Skill apapun yang ingin Anda dalami misal; catur, musik atau bahasa, Anda tetap membutuhkan kedua mode ini. Karena Eksekusi ada di mode fokus sedang kreativitas ada di mode diffuse. 

 

Sama hal seperti ketika Anda sedang membaca buku, Anda tidak dapat dapat benar-benar merenungkan isi buku untuk kebutuhan ketika Anda fokus membaca dan mengikuti alur pikiran penulis terlebih dahulu. Baru ketika Anda meletakkan buku, Anda bisa merenungkan manfaat isi buku untuk Anda. 

 

Dalam banyak kasus wawasan yang luas justru muncul saat mode difus, tapi pengembangan konkret diselesaikan dalam mode fokus. Einstein menemukan relativitas saat bertengkar dengan temannya dan kemudian dia menghabiskan beberapa dekade menyempurnakannya untuk kemudian dipublikasikan. 

 

Banyak buku Stephen king dimulai dari kalimat tunggal yang dia tulis di kertas kecil atau serbet setelah mandi, menyetir atau kapanpun saat dia menemukan ide dan kemudian dia masuk pada jadwal mode fokusnya menulis 2000 kata setiap pagi untuk mengubah ide kata tadi menjadi buku. 

 

Jack kerouac menulis On The Road setelah 7 tahun melakukan perjalanan (mode difus). Kemudian dia fokus menulis bukunya itu hanya dalam waktu 3 minggu menggunakan gulungan kertas kalkir setinggi 120 kaki karena tidak mau ada jeda yang mengganggu hanya untuk mengganti kertas di mesin “tik” nya. 

 

Salah satu studi1 yang mempelajari bahwa kreativitas didukung oleh dua mode ini adalah sebuah tulisan yang berjudul “The Richness of Inner Experience: Relating Styles of Daydreaming to Creative Processes”. Disimpulkan di sana bahwa mengambil jeda istirahat secara sadar dengan mengerjakan hal apapun yang tidak berhubungan dengan pekerjaan utama ternyata bisa meningkatkan kreatifitas untuk pekerjaan selanjutnya, fase ini disebut oleh mereka sebagai inkubasi. 

 

Menarik bukan? Jika Anda butuh ide segar untuk pekerjaan yang dirasa tidak memiliki progress yang menarik, cobalah untuk jeda istirahat sesaat melakukan hal lain yang tidak nyambung dengan pekerjaan utama saat ini agar Anda memancing pikiran mendapatkan ide segar lainnya. 

 

Jadi bagaimana kita bisa efektif menggunakan kedua mode ini?

 

Secara sederhana cara yang ditawarkan adalah sebagai berikut;

  1. Bekerjalah dengan fokus yang tinggi dan intens di jadwal yang Anda inginkan. Tapi ketika ide berhenti mengalir dan hasilnya kurang menarik masuklah ke mode diffuse

  2. Masuk ke mode diffuse bisa dengan banyak cara mudah seperti mendengarkan musik dengan lirik yang tidak perlu Anda hafalkan, olahraga, membuat kopi, berjalan-jalan di ruangan kerja Anda sambil memandangi ruangan kerja yang mungkin kurang rapi atau sekedar menatap keluar jendela dan melamunkan apapun yang Anda lihat di sana. Hindari rasa bersalah ketika masuk ke mode ini, karena pikiran Anda butuh di refresh. mungkin terasa seperti membuang-buang waktu, tapi ini justru adalah bagian pentingnya. 

  3. Mengambil handphone dan menatap medsos mungkin adalah cara yang buruk untuk masuk ke mode diffuse karena pikiran Anda tidak benar-benar istirahat dan mengembara ke dalam pusat kreatifitas yang sebenarnya. 

 

Pada akhirnya, pikiran kita memang akan meminta masuk ke mode difus seberapapun kita mencoba fokus. Karena memang cara bekerja pikiran demikian. Jadi Anda tidak butuh banyak adaptasi dalam hal ini, yang Anda harus lakukan hanyalah benar-benar sadar ketika melakukannya dan melatih hingga sampai pada titik master dalam memanfaatkan kedua mode ini. 

 

Sebagai penutup dari saya, mulailah belajar menguasai kedua mode ini dan beberapa keuntungan bisa Anda dapatkan misalnya ingatan Anda akan menjadi lebih kuat, waktu belajar lebih efisien, Anda lebih mudah menghilangkan hambatan belajar dan tentu saja Anda jadi jauh lebih produktif.

 

ditulis oleh Muhammad Bahauddin Amin
Co-Trainer SyncPlanner

 

referensi:

  1. Claire M Zedelius, Jonathan W Schooler. “The Richness of Inner Experience: Relating Styles of Daydreaming to Creative Processes”.  PubMed.gov. 2015

Leave a Reply

Close Menu
×

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Morbi fringilla sollicitudin lacus, ac rutrum massa tristique fringilla. Suspendisse mattis finibus felis nec faucibus. Vivamus ut quam metus. Vivamus porttitor sodales odio. Sed hendrerit lectus nec ultrices varius. Sed lacinia commodo tortor. Sed cursus tempus leo, eget aliquet lorem. Aliquam sit amet tristique metus. Duis interdum justo in nisi commodo ullamcorper.

[contact-form-7 id=”298″ title=”Contact form”]